Jatidiri (2) Lanjut bagaiman komentarnya…

Di suatu sore saya sedang asik ngobrol dengan si bone dan Pulung janjian makan bareng disuatu tempat rekan parthner saya yang sekarang  berlainan kantor dengan saya. Biasa, lah awal bulan kalau habis gajian mulai kasak-kusuk mau belanja ini itu (gadget) atau mencicipi jajanan kesukaan. Namun, keinginan itu sirna begitu saja, begitu tahu kalau gajian yang kita terima tidak bisa mengejar keinginan kita. Terbentur oleh kebutuhan sembako dan hutang yang harus dicicil. “Oh, nasib. Serba ngepas belum lagi rumah gua yang belum jelas bentuknya. Kalau begini rasanya, pasti tidak ada orang yang berharap apalagi bercita-cita ingin menjadi orang miskin,” keluhnya. “Nih, “Ah, jelas enak jadi orang kaya, mau apa saja bisa!,” ucap si Bone. “Menjadi orang kaya tetapi hidupnya tidak bahagia buat apa? Selalu was-was kekayaannya diincar maling,” timpal Pulung lagi, takut diutangi lagi?,  yang penting cukuplah timpa saya. Untuk memilih menjadi orang kaya atau orang miskin tentu menjadi diskusi panjang yang tiada habisnya dengan banyak dalih, teori dan alasan. Tetapi, okelah, soal kaya atau miskin tidak usah kita omongkan panjang lebar. Yang terpenting sekarang ini bagaimana caranya bisa menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal saja kata si Bone, soalnya anak gua udah mau empat ouy “semangat ouy”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: